Jakarta Biennale kembali menggelar pameran ditahun 2015. acara yang telah dipersiapkan sejak Januari 2015 ini berlangsung pada 14 Novomber 2015 sampai 16 Januari 2016. Ditahun ini, Jakarta Biennale menghadirkan 70 seniman yang berasal dari Indonesia dan luar Indonesia.
Tema Jakarta Biennale 2015 yaitu “Maju Kena, Mundur kena: Bertindak Sekarang” diambil dari sebuah judul film komedi Indonesia 1980-an, sekaligus mengacu pada ungkapan lokal situasi yang khas Indonesia. Situasi yang dimaksud adalah situasi dimana kita harus memfokuskan diri pada dunia disekeliling kita. Dengan kata lain, Jakrta Biennale ingin menceritakan tentang bagaimana kehidupan kita kini di Indonesia.
Rancangan arsitektural pameran di Gudang Sarinah pun dibuat dengan menyesuaikan tata letak perkotaan yang kontras antara padatnya rumah warga dan ruang publik. Hal tersebut dapat di dilihat pada ruang tengah pameran yang terpasang tiga karya Tisna Sanjaya, Peter Robinson, dan Jonas Sestrakresna yang memberikan makna berdoa, bermain, dan berpikir.
Pameran Jakarta Biennale 2015 ini memberikan wadah bagi para seniman Indonesia dan Internasional untuk merespon beragam kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang ada. Para seniman menciptakan karyanya sesuai dengan tiga topik utama yang dipilih, yaitu air dan lingkungan, kota dan sejarah, serta gender dan seksualitas. Karya yang berdasarkan topik-topik diatas mengisi setiap sudut ruang pameran, namun karya tersebut dikemas dengan wajah dan makna yang berbeda.
Pada umumnya, seniman selalu memberikan teori-teori dan pemahaman-pemahaman lain yang didapat dari suatu kondisi yang pelik. Maka dari itu, karya-karya yang ada pada Jakarta Biennale ini menyajikan beragam pilihan atau pemahaman tersebut yang didasari dari jalur sosial yang kerap ditempuh. (LetsReadMagazine/DAP)
} ?>


